Wanita Penganiaya Mertua Perempuan di Tangkap Polsek Menteng

POL – Markas Polsek Metro Mentang, Jakarta Pusat menetapkan ME Br S sebagai tersangka kasus penganiayaan terhadap mertuanya Dr IRR, SH, MH.
Penetapan wanita yang juga menantu Dr IRR sebagai tersangka kasus kriminal tersebut berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan penyidik Polsek Menteng pada 27 April 2021.

Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Polisi (AKP) Sam Suharto kepada presiden online.com Kamis (20/5) membenarkan ME Br S telah ditetapkan sebagai tersangka. “ME sudah pernah dipanggil sebagai tersangka oleh penyidik satu kali, tapi tidak datang,” ujar AKP Sam.

Sementara korban  Dr IRR yang dikonfirmasi terpisah mengatakan, pihaknya telah mendapatkan surat pemberitahuan hasil penyidikan ke-5 terhadap kasus penganiayaan yang dilakukan tersangka ME terhadap dirinya.
Bahkan penyidik Polsek Metro Menteng telah mengirimkan Surat No B/514/IV/RES 1.6/2021/Sektro Mt, perihal pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan ke-5.

Surat pemberitahuan tertanggal 29 April 2021 itu ditandatangani Kapolsek Menteng Komisaris Polisi (Kompol) Rohman Yonky Dilahta SIK, MSi. Surat pemberitahuan itu menginformasikan perkembangan kasus dengan laporan polisi Nomor: 251/K/X/2020/Sektro Menteng, tanggal 26 Oktober 2020. 

Peristiwa penganiayaan yang dilakukan ME terhadap mertuannya terjadi di Apartemen Menteng, Jakarta, pada 22 Oktober 2020. Tersangka ME diketahui sebagai anak seorang pendeta juga mantan petinggi di HKBP. 

Saat itu tersangka datang ke apartemen korban ditemani dua perempuan berjilbab dan satu laki laki. Tanpa sopan santun tersangka masuk ke dalam apartemen milik korban bermaksud mengambil dan membawa cucu korban yang sebelumnya dititipkan Te (suami tersangka) sama korban.

Namun keinginan tersangka untuk membawa paksa anaknya dicegah korban dan meminta tersangka untuk menunggu Te datang. Namun tersangka tetap memaksa sehingga terjadi adu mulut dan tersangka mendorong korban yang sudah berusia 61 tahun.

Akibat dorongan yang cukup kuat, kepala korban terbentur bibir atas lemari yang di atasnya dilapisi kaca. Kepala korban memar sesuai hasil visum et repertum dari RSCM Jakarta.

Bukan hanya itu, dahi korban juga memar akibat ditampar tetsangka dan dada sebelah kiri ditinju tersangka secara berulang-ulang. Akibat pukulan cukup keras, otot dada korban retak sesuai hasil pemeriksaan Dokter Christina, SpD dari Rumah Sakit St Borromeus Bandung.

Akibatnya, korban merasakan sakit yang luar biasa saat bernafas ketika hendak tidur terlentang serta saat berbalik badan ketika tidur sehingga sering menjerit-jerit kesakitan. 

Sikap tidak terpujj juga diperlihatkan tersangka kepada mertuanya setelah keluar dari lift Apartemen Menteng. Tersangka ME sempat mengancam mertuanya sambil mengatakan, “Hei perempuan jelek, tak tau diri.. awas kau ya… awas kau ya.”

Tersangka akhirnya diusir oleh satpam agar keluar dari lobby apartemen. Kesokan harinya, 23 Oktober 2020, tetsangka ME didampingi pengacaranya mendatangi kantor kejaksaan, tempat anak korban juga suami tersangka, Te bekerja. Di sana, tersangka kembali membuat keributan untuk mempermalukan Te di drpan teman-temannya.

Dikatakan korban IRR, sebelum kasus ini diproses secara hukum, Kapolsek Menteng yang sekarang dijabat oleh AKBP Iver sudah pernah menawarkan untuk berdamai. Perdamaian itu diberi waktu 10 hari sehingga pihak keluarga korban mencoba telepon dan WA dan minta tolong kepada beberapa pendeta yang mantan petinggi HKBP dan pendeta aktif, namun tidak ditanggapi tersangka. 

Bukan hanya itu, upaya perdamaian secara kekeluargaan pun diupayakan. Utusan Pendeta MS dua kali datang untuk mediasi. Namun ada permintaan korban IRR minta sama tersangka ME yang menantunya datang didampingi ayah dan ibunya beserta seluruh keluarga besar tetsangka. 

Alasan pihak korban dan seluruh keluarganya, mereka tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Karena tidak ada titik temu akhirnya keluarga besar tersangka ME mengundurkan diri. Pihak korban pun akhirnya memilih kasusnya diselesaikan secara hukum untuk membuat menantunya itu sadar bahwa perlakuan kasar tersangka ME terhadap mertuanny sangat tidak manusiawi. (grd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *